Image default
Bisnis

5 Triliun dari BPJS Kesehatan Menkeu Ancam Tarik Suntikan Dana Rp 13 Jika Iuran Batal Naik

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menanggapi permintaan anggota DPR dalam Rapat Gabungan yang meminta agar iuran untuk peserta bukan penerima upah (PBPU) atau peserta mandiri BPJS Kesehatan batal dinaikkan. Menkeu mengatakan, pihaknya bisa saja menarik kembali dana Rp 13,5 triliun yang sudah disuntikkan ke BPJS Kesehatan untuk membayarkan iuran peserta Penerima Bantuan Iuran ( PBI) pemerintah pusat dan daerah yang naik dari Rp 23.500 menjadi Rp 42.000. Selain itu, Menkeu juga menyesuaikan iuran Peserta Penerima Upah (PPU) pemerintah, yaitu TNI, POLRI dan ASN yang ditanggung oleh pemerintah di mana tarifnya menjadi 5 persen dari take home pay sebesar Rp 8 juta menjadi Rp 12 juta.

Pasalnya, BPJS Kesehatan berada dalam kondisi keuangan defisit mencapai Rp 32 triliun di 2019. "Jika meminta Perpres dibatalkan maka Menkeu yang sudah transfer Rp 13,5 triliun 2019 saya tarik kembali," ujar Sri Mulyani ketika memberikan penjelasan kepada anggota DPR di Jakarta, Selasa (18/2/2020). Sri Mulyani mengatakan dalam memberikan jaminan sosial kepada masysarakat, pemerintah juga perlu memerhatikan kondisi keuangan negara. Ditambah lagi, pemberian jaminan sosial terutama dalam hal kesehatan perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Namun demikian, BPJS Kesehatan sebagai lembaga yang memberikan pelayanan tersebut justru mencatatkan defisit sejak 2014. "Sejak program jaminan sosial dilaksanakan 2014 BPJS terus mengalami defisit dengan tren semakin besar tiap tahun. Itu semua harus diakui karena fakta. Tahun 2014 defisit Rp 9 triliun, kemudian disuntik Rp 5 triliun. Tahun 2016 turun Rp 6 triliun dan disuntik Rp 6 triliun," ujar dia. Jumlah defisit tersebut kembali meningkat di 2017 yang sebesar Rp 13 triliun dan tahun 2018 sebesar Rp 19 triliun.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut mengatakan, dengan kondisi saat ini BPJS Kesehatan belum mampu memenuhi kewajibannya untuk melakukan pembayaran kepada mitra kerjanya yaitu rumah sakit. Padahal banyak pula rumah sakit yang sedang dalam kondisi sulit. "Sistem BPJS kita tidak mampu memenuhi kewajibannya dari sisi kewajiban pembayaran. Padahal disebutkan BPJS maksimal 15 hari membayar. Namun banyak kewajiban BPJS Kesehatan yang bahkan sampai lebih dari 1 tahun tidak dibayarkan," ujar Sri Mulyani.

"Banyak rumah sakit mengalami situasi sangat sulit," jelas dia.

Berita Terkait

Pupuk Indonesia Dorong Anak Usaha capai Sertifikasi Anti Penyuapan

Maya Rosfi'ah

Jumlah Truk Kelebihan Muatan yang Melintas di Tol Cikampek Berkurang 30 Persen

Maya Rosfi'ah

Ini Kata YLKI Driver Ojol Tak Boleh Angkut Penumpang selama PSBB

Maya Rosfi'ah

Berikut Cara Daftar & Syaratnya Penyebab Gagal Dapatkan Kartu Pra Kerja

Maya Rosfi'ah

Apresiasi BI buat Seribuan Milenial yang Aktif Sosialisasikan QRIS ‘BI Netifest 2020’

Maya Rosfi'ah

Ekosistem Logistik Nasional Belum Efisien Presiden

Maya Rosfi'ah

Jenis-Jenis Exchange Crypto

Maya Rosfi'ah

Bank BJB Syariah Masih Catatkan Kinerja Positif Di Tengah Pandemi Covid-19

Maya Rosfi'ah

BI Disarankan Turunkan Suku Bunga Acuan 50 Basis Poin

Maya Rosfi'ah

Leave a Comment