Image default
Metropolitan

Begini Kata Dinhut DKI 300 Pohon di Jakarta Ditebang buat Pembangunan 4 Mega Proyek Rp 736 Miliar

Adanya pembangunan empat mega proyek DKI Jakarta Rp 736 miliar, membuat 300 pohon ditebang di sejumlah titik. Adanya 300 pohon ditebang demi empat mega proyek DKI tersebut, dibenarkan oleh pihak Dinas Kehutanan DKI Jakarta. Keempat proyek itu antara lain, flyover Cakung, flyover Lenteng Agung IISIP Jakarta, flyover Tanjung Barat, hingga underpass Senen.

“Totalnya ada sekitar 300 pohon yang terkena. Berdasarkan data sementara dari Cakung ada 170 pohon yang ditebang" "Sedangkan untuk proyek lainnya masih disurvei,” ujar Kepala UPT Pengembangan Tanaman Perkotaan pada Dinas Kehutanan DKI Jakarta Yati Sudiharti saat dihubungi pada Minggu (1/12/2019). Menurut dia, jenis pohon yang terkena dampak proyek cukup bervariasi dari jenis ketapang kencana, angsana, beringin dan sebagainya.

Usianya juga cukup tua di atas 10 tahun karena dilihat dari ukuran batang yang besar. “Untuk kepentingan umum menebang pohon itu diperbolehkan, tapi harus diganti karena untuk menjaga keseimbangan lingkungan,” kata Yati. Dia mengaku, awalnya telah meminta kepada dinas terkait untuk mengubah lokasi proyek yang tidak memakan lahan taman.

Namun permintaan itu ditolak dengan alasan lokasi tersebut telah ditentukan oleh tim teknis Bina Marga. “Kalau nanti setelah pembangunan tidak ada space (ruang) untuk pohon baru, kami cari di sekitar proyek" "Kalau tidak ada juga, nanti saya koordinasi dengan Suku Dinas Kehutanan wilayah untuk menentukan titiknya di daerah setempat,” ucapnya.

Dinas Kehutanan DKI Jakarta telah menetapkan jenis pohon yang akan ditanam kembali akibat empat mega proyek di wilayah setempat. Adapun empat proyek itu tiga di antaranya flyover Cakung, Jakarta Timur serta Tanjung Barat dan Lenteng Agung IISIP, Jakarta Selatan dan underpass Senen, Jakarta Pusat. Kepala UPT Pengembangan Tanaman Perkotaan pada Dinas Kehutanan DKI Jakarta Yati Sudiharti mengatakan, jenis pohon yang akan dibangun adalah bungur, tabebuya, sepatu, kupu kupu, buttercup dan sebagainya.

Jenis pohon itu dipilih karena dianggap indah dan mampu menyerap polutan serta air, sehingga keseimbangan lingkungan tetap terjaga. “Pohonnya diganti dengan usia yang lebih muda, karena kalau diganti dengan usia yang sama seperti pohon sebelumnya potensi matinya lebih tinggi,” kata Yati saat dihubungi pada Minggu (1/12/2019). Menurut dia, idealnya penanaman pohon dilakukan pada tanaman yang memiliki batang berdiameter di bawah 10 sentimeter atau berbentuk bibit.

Usia pohon seperti ini dianggap mampu berkembang dan beradaptasi di tempat yang baru. Berbeda dengan pohon tua yang kecenderungan untuk berkembang pada bagian akar sangat sulit. Dalam kesempatan itu, Yati mengaku tak tahu akan dikemanakan pohon pohon yang ditebang tersebut.

Dia beralasan pohon tersebut telah menjadi milik pelaksana proyek karena mereka akan mengganti pohon itu dengan yang baru. “Karena mereka ganti pohon jadinya pohon itu sudah menjadi miliknya dan yang menebang pohonnya itu mereka, bukan kami,” jelasnya. Pihak Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Bina Marga DKI Jakarta tengah menjalankan tiga proyek pembangunan flyover (jalan layang) dan satu proyek pembangunan underpass (jalan bawah tanah) di DKI Jakarta.

Diketahui, total anggaran DKI Jakarta mengenai proyek flyover dan underpass tersebut, mencapai Rp 736 miliar. Keempat proyek ini, dikerjakan dengan tahun jamak (multi years) dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2019 dan 2020. Menurut Kadis Bina Marga DKI Jakarta Hari Nugroho, apabila proyek flyover Tanjung Barat telan biaya sekitar Rp 163 miliar.

Untuk flyover Cakung Rp 261 miliar, flyover Lenteng Agung IISIP Jakarta Rp 143 miliar dan underpass Senen Rp 169 miliar. Jika ditotal anggaran yang dibutuhkan tersebut sekitar Rp 736 miliar. “Penganggarannya dilakukan secara dua tahap, pada tahun 2019 dan 2020,” ujar Hari saat dihubungi pada Minggu (1/12/2019).

Hari menjelaskan, pembangunan dilakukan secara dua tahap karena mempertimbangkan kebutuhan anggaran untuk kegiatan lain. Untuk 2019, pemerintah telah mengalokasikan dana untuk flyover Tanjung Barat Rp 46,4 miliar, flyover Cakung Rp 68,3 miliar, flyover Lenteng Agung IISIP Jakarta Rp 37 miliar dan underpass Senen Rp 47,68 miliar. “Progres pembangunannya telah dimulai sejak 30 September 2019 lalu dan ditargetkan selesai Desember 2020, sehingga di awal tahun 2021 sudah dapat digunakan,” katanya.

Menurut dia, pembangunan empat infrastruktur tersebut menyusul penutupan perlintasan sebidang kereta api yang dilakukan PT Kereta Api Indonesia (KAI). Adapun dasar penutupan perlintasan sebidang itu demi keselamatan pengendara bermotor yang selama ini jalannya bersinggungan dengan kereta api. Empat infrastruktur tersebut juga diyakini dapat mengurangi titik kemacetan akibat adanya perlintasan sebidang yang selama ini dilalui pengendara bermotor.

“Makanya kami buatkan flyover dan underpass, karena perlintasan ditutup. Tapi kalau sudah jadi, masyarakat akan menikmati flyover dan underpass ini,” ucapnya.

Berita Terkait

Kali Ini di Depan Indekos Mahasiswi Kasus Pria Pamer Alat Kelamin di Depok Kembali Terjadi

Maya Rosfi'ah

Duta Damai Dunia Maya ini Sesuatu yang Baru dan Bagus kata Iwan Gardono Sujatmiko

Maya Rosfi'ah

Transjakarta Ajak Lima Komunitas Bersih Bersih Halte Transjakarta Dari Jejak Vandalisme

Maya Rosfi'ah

Sudah Tahu Bedanya LRT, MRT, dan KRL atau Commuter Line?

Maya Rosfi'ah

Begini Suasananya Melihat Penyemprotan Disinfektan di Jalan-jalan Jakarta Pusat

Maya Rosfi'ah

Pelni Karantina KM Bukit Raya Satu Kru Kapal Positif Covid-19

Maya Rosfi'ah

DPMPTSP Layani Masyarakat di Pameran Pembangunan Dalam Rangka HUT ke-11 Kota Tangsel

Maya Rosfi'ah

Tersangka Mengaku Sebagai Ketua Kelompok Anarko Indonesia Curi Helm Milik Polisi

Maya Rosfi'ah

DPRD DKI Sebut Publik Salah Kaprah Pahami PSBB Transisi Kasus Corona di Jakarta Meroket

Maya Rosfi'ah

Leave a Comment