Image default
Lifestyle

Berikut Saran Psikolog Bullying Kerap Terjadi di Sekolah Bagaimana Seharusnya Guru Menyikapinya

Kasus bullyingdi sekolah sudah sering terdengar di berbagai pemberitaan di media. Sebagai orangtua di sekolah, tentunya guru memiliki peran penting dalam menyikapi hal ini agar bullying antar siswa tidak terjadi berlarut larut. Pasalnya, bullying juga berpotensi menjadikan korbannya mengalamidepresi, gangguan kecemasan, bahkan mungkin berkeinginan untuk bunuh diri.

Psikolog Anak dan Keluarga dari Yayasan Praktek Psikolog Indonesia, Adib Setiawan, S. Psi., M. Psi menyampaikan, dalam menyikapi hal ini, seorang guru sebisa mungkin meningkatkan kemampuan siswanya. Selain itu, guru juga perlu membangun rasa empati pada diri murid muridnya. Bukan itu saja,psikolog dari praktekpsikolog.com itu menyampaikan, guru sebaiknya dapat menanamkan kerjasama antar siswanya.

"Jadi lebih baik guru itu menanamkan kerjasama murid dengan teman temannya," kata Adib. Pasalnya, menurut Adib, bullying banyak terjadi di sekolah sekolah yang siswanya memiliki tingkat persaingan tinggi. Persaingan tersebut secara tidak langsung akan membuat siswa merasa dibully.

"Karena kalau bullying itu biasanya lebih banyak karena sekolah terlalu mengedepankan persaingan," ujar psikolog dari Bintaro, Jakarta Selatan itu. "Persaingan antarsiswa akan membuat siswa yang merasa lemahmenjadi merasa dibully, karena dirinya merasa nggak mampu," sambungnya. Adib menekankan, kerjasama dalam proses belajar sangatlah penting.

Hal tersebut dapat dilakukan dengan membagi siswa dengan kemampuan yang berbeda beda ke dalam kelompok kelompok belajar. "Saya lebih menyarankan guru atau pihak sekolah lebih mengedepankan kerjasama dalam proses belajar, artinya ada kerjasama kelompok," kata Adib. "Misalnya kelas dibagi beberapa kelompok, yang pintar dibagi sama yang kurang pintar, jadi yang merasa pintar pun mau menolong, mau melatih siswa siswa lain yang cenderung kurang," lanjutnya.

Adib pun menegaskan, kerjasama antarsiswaperlu dikedepankan daripada kompetisi. "Jadi memang kerjasama perlu dikedepankandaripada yang sifatnya kompetisi," tegas Adib. Untuk mengantisipasidampak burukdari bullying,Psikolog Adib memberikan beberapa tipsagar anak tidak menjadi korban bullying.

Berikut solusi agar anak tidak menjadi korban bullying di sekolah menurut Psikolog Adib: Psikolog dari praktekpsikolog.com itu menyebutkan, seorang anak yang terlalu dimanja lebih rentan menjadi korban bullying. Pasalnya, anak yang merasa selalu mendapat segala sesuatu di rumah akan mengalami kesulitan memecahkan masalah saat menghadapi orang lain.

"Misalkan, ketika mau minum diambilin orang tua, mau makan harus diambilin atau disuapin, mau mainan langsung dikasih orangtuanya," sambungnya. Adib menambahkan hal tersebut akan menjadi pemicu seorang anak menjadi korban bullying saat dirinya merasa tidak mendapatkan semua keinginannya, seperti di rumah, saat mereka di sekolah. "Ketika di sekolah (anak berpikir)ternyata kok tidak bisa mendapatkan sesuatu yang diharapkan, lalu ketika dia mengatur atur temannya malah, nah seperti itu," jelas Adib.

Adib menjelaskan, orangtua perlu mengajak anak anaknya yang masih balita untuk bermain keluar. Hal itu diperlukan agar sang anak dapat berlatih dalam berinteraksi sosial. "Ketika di usia balita, anak tidak boleh keluar misalnya, anak sering di rumah saja,nanti ketika bertemu dengan teman maka interaksi sosialnya dengan teman itu kurang," jelas Adib.

Psikolog Anak dan Keluarga itu menuturkan, orangtua harus dapat mengasah seluruh keterampilan anak, termasuk keterampilan berpikir atau kognitif ini. Menurutnya, keterampilan kognitif seorang anak dapat dilatih dengan mengajaknya bermain puzzle atau lego. Selain melatih keterampilan kognitif, orang tua juga perlu mengasah keterampilan bahasa atau keterampilan berbicara seorang anak.

"Melatih anak ngomong, memiliki kosa katanya banyak," ujar Adib. Tak hanya itu. Keterampilan motorik juga perlu dilatih ke anak. Keterampilan motorik tersebut dapat berupa motorik kasar maupun motorik halus.

"Kalau keterampilan motorik kasar itu seperti lari atau lompat," kata Adib. "Sedangkan keterampilan motorik halus contohnya keterampilan menulis," sambungnya. Keterampilan emosi juga menjadi hal yang penting dalam mendidik anak.

Menurut Adib, orangtua perlu melatih keterampilan emosi anak agar anak tersebutdapat mengendalikan emosinya. "Ketika di rumah,bagaimana caranya anak tidak mudah tersinggung ketika dinasihati, tidak mudah marah, tidak mudah memukul," jelas Adib. Bukan itu saja, melatih keterampilan sosial juga tak kalah pentingnya.

Menurut Adib, keterampilan ini dapat dilatih dengan mengajak anak untuk dapat bekerjasama dengan temannya. "Misalnya dia punya teman, bisa bekerjasama dengan teman, bisa bermain peran pura pura menjadi dokter, pura pura menjadi pasien," kata Adib. Selanjutnya yaitu melatih anak untuk berempati.

Keterampilan ini dapat dilatih dengan mengajarkan anak berbagi dan membiasakannya mengucap terima kasih hingga meminta maaf saat berbuat salah. "Ketika punya minum dibagi, atau temannya dibikinin misalnya, itu melatih empati bisa berbagi dengan yang lain," jelas Adib. "Lalu mengajarkan mengucapkan terima kasih, mudah memafkan, dan meminta maaf jika salah," sambungnya.

Menurut Adib, sekolah yang ramah terhadap anak merupakan sekolah yang memiliki perimbangan antara jumlah guru dan muridnya. "Artinya, jumlah guru dan siswa itu seimbang," kata Adib. "Kalau satu guru banding 40 siswa itu kebanyakan, kalau bisasatu guru banding 25 siswa, itu masih wajar," sambungnya.

Adib menuturkan, dengan menerapkan keterampilan tersebut pada anak, maka kemungkinan seorang anak menjadi korban bullying sangatlah kecil. "Kemungkinan kalau punya keterampilan ini, kemungkinan bullying sangat kecil ya," kata Adib. Adib menambahkan, orangtua sebaiknya tidak melakukan kekerasan pada anak karena hal itu akan sangat mempengaruhi perilaku anak dalam menyikapi teman temannya.

Seorang anak yang terbiasa menerima kekerasan di rumah, akan melakukan kekerasan pula pada teman temannya. '"Kalau ada kekerasanterhadap anak, orang tuanya juga perlu konseling supaya anaknya tidak melakukan kekerasan pada orang lain," ujar Adib.

Berita Terkait

Kisah Asmara Capricorn Segera Dimulai Libra Jangan Ragu Ramalan Zodiak Cinta Rabu 1 Januari 2020

Maya Rosfi'ah

5 Zodiak Ini Punya Koneksi yang Baik Antara Pikiran dan Tubuh, Padahal Dikenal Sibuk, Kamu Termasuk?

Maya Rosfi'ah

Cancer Menjaga Hatinya Agar Tak Terluka Hampir Tak Pernah Tunjukkan Emosi 5 Zodiak Berhati Dingin

Maya Rosfi'ah

Ibu Menyusui Wajib Baca! Tya Ariestya Bagi Trik Memilih Bra Agar Tak Pengaruhi Produksi ASI

Maya Rosfi'ah

Tikus Introspeksi Diri Ramalan Shio Hari Ini Naga Jangan Stres Senin 2 Maret 2020

Maya Rosfi'ah

Libra Jaga Kesehatan & Taurus Lalai Hadapi Masalah Sabtu (7/3/2020) Ramalan Zodiak Hari Ini

Maya Rosfi'ah

6 Zodiak yang Kerap Jatuh Cinta dengan Orang yang Tak Bisa Mereka Miliki, Kamu Termasuk?

Maya Rosfi'ah

Resep Sate Loso, Kuliner Khas Pemalang yang Cocok Buat Hidangan Idul Adha

Maya Rosfi'ah

Aries Banyak Keraguan sedangkan Scorpio Percaya Diri Ramalan Zodiak Selasa 24 Desember 2019

Maya Rosfi'ah

Leave a Comment