Image default
Metropolitan

Disuruh Tetap Masuk Tapi Gaji Dipotong Setengah Duka Pelayan Restoran di Jakarta saat Corona

Di tengah pandemi Covid 19diTanah Air, sebagian pekerja dirumahkan dengan pemotongan pendapatan hingga setengah gaji. Dari mereka bahkan ada yang tidak diberikan gaji sama sekali. Kebutuhan hidup yang mendesak mau tak mau dipenuhi dengan penghasilan pas pasan.

Mereka menunggu badai pandemi Covid 19 lekas berlalu demi kembali bekerja penuh menafkahi keluarga. Di balik Jalan Cipete Raya yang terkenal banyak restoran dan cafe kekinian, terdapat permukiman berisi rumah kontrakan bagi para karyawan. Nana,salah satu pengurus RT 009/RW 006 Kelurahan Cipete Selatan, mengajak saya menemui saudaranya, Cece Hidayat (42).

Cece karyawan restoran yang dirumahkan dan terkena dampak pandemi virus corona atau Covid 19. Kami membelah gang sempit untuk menuju ke sana. Banyak kontrakan maupun kos kosan yang saling berdempetan di jalan yang kami lewati.

Jalan demi jalan yang kami lewati makin menyempit. Bahkan, kedua sisi tembok jalan hampir menyentuh bahu saya saking sempitnya. Saya dibawa menuju beberapa rumah petak. Salah satu rumah petak itu ditinggali Cece beserta istri dan keempat anaknya.

Di depan kontrakan seluas30 meter persegi itu, Cece menceritakan dampak pandemi Covid 19 yang membuatnya terpaksa dirumahkan oleh pemilik restoran. Masa awal pemberitaan viruscorona masuk ke Indonesia, restoran tempat Cece bekerja di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, masih buka. Semakin lama pengunjung restoran beringsut turun. Hanya segelintir saja yang datang.

Pemilik restoran pada akhirnya mengikuti imbauan pemerintah dengan merumahkan Cece dan karyawan lain. "Kemarin sih katanya sampai tanggal 19 April, tapi lewat WhatsApp grup diperpanjang lagi sampai tanggal 24 April. Kita nunggu lagi," kata Cece. Semasa April ini, Cece hanya menerima separuh gaji karena kondisi keuangan pemilik restoran goyah.

Cece masih mendapat gaji penuh pada Maret berkisar Rp 3,2 Jutaan. Sedangkan akhir bulan ini Cece bakal mendapatkan separuhnya. Kendati masih mendapat gaji, pendapatan Cece pas pasan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Apalagi, tiga orang anaknya masih bersekolah. Ia ingin mencari pekerjaan tambahan di masa pandemi sebagai ojek online, namun tidak mungkin. Nasib driver ojek online saat ini juga sama sulitnya, karena dilarang menarik penumpang dan hanya boleh kirim barang.

Cece menaruh harapan kepada pemerintah yang ingin memberikan sembako kepada masyarakat yang terdampak virus corona. Sembako sangat membantunya dalam meringankan beban kebutuhan hidup keluarga. Ia mengaku sudah terdaftar di RT sehingga tinggal menunggu bantuan sembako dari pemerintah.

Setidaknya,nasib Cece masih lebih baik ketimbang banyak karyawan di tempatnya kerja tidak jelas. "Karyawan yang baru bekerja di bawah 2 tahun, enggak digaji bulan ini. Dipanggilnya pun mereka juga belum tahu kapan," lanjutnya. Anak sulung Cece, Nabila Zahra (19) yang bekerja sebagai karyawan restoran di kawasan Lebak Bulus juga merasa bersyukur.

Meski dirumahkan, Nabila tetap mendapat separuh gajinya untuk bulan ini meski baru bekerja enam bulan. "Ya masih bisa bersyukur di tengah keadaan begini. Masih mending dari teman saya yang bekerja di restoran lain kena PHK," ucap Nabila. Selepas berbincang dengan Cece dan Nabila, saya bergegas keluar dari permukiman itu melewati jalan sempit yang sama.

Sembari berjalan, jari telunjuk Nana menunjuk ke atas bangunan kontrakan yang mayoritas dihuni para karyawan restoran steak ternama. Semenjak badai Covid 19 datang dan bertahan sampai sekarang, lanjut Nana, kontrakan itu sepi ditinggal pergi karyawan ke kampung halaman. Berbeda dengan nasib Cece dan Nabila yang dirumahkan.

Hesti, salah satu karyawan di restoran bakmi di kawasan Sawah Besar, Jakarta Pusat, masih diharuskan kerja. Meski tetap masuk kerja, pendapatan Hesti sudah dua bulan ini terkena potongan gara garacorona. Sekitar 70 persen dari 50 karyawan di restoran itu dirumahkan.

Bersyukur tempat tinggal Hesti berdekatan dengan restoran, sehingga diminta masuk bergantian melayani pesanan take away atau delivery. "Masih rolling, karena jaraknya dari rumah ke tempat kerja masih bisa," ungkapHesti. Semenjak pandemi, Hesti menjadi tulang punggung keluarga lantaran suami tak bisa bekerja.

Sementara pengeluaran di rumah jalan terus. "Soalnya emang duka banget (saat ini). Pengeluarannya jalan terus, pendapatannya berkurang bahkan nol," kata ibu anak satu ini. Hesti mengaku pasrah. Ia berharap kondisi ini lekas berlalu.

"Apa yang mau diharapkan, selama ini kalau bukan kerja keras sendiri." "Pemerintah kita enggak bisa berharap sepenuhnya. Semoga cepat berlalu aja kondisi kayak gini," ujarnya.

Berita Terkait

Begini Nasibnya Nyaris Tabrak Pengendara Polisi Ngamuk & Kabur Gegara Ditegur Tak Pakai Masker

Maya Rosfi'ah

Reaksi Tak Biasa Iriana Jokowi Terekam Kamera Bertemu Menteri Basuki Hadimuljono Dan Istri

Maya Rosfi'ah

MS Diduga Terpengaruh Narkoba saat Habisi Nyawa Bayinya Sendiri

Maya Rosfi'ah

Dishub Segera Tutup Perlintasan Sebidang di Dekat Kantor Imigrasi Jakarta Timur

Maya Rosfi'ah

Dari Asupan Gizi Hingga Kondisi Ekonomi Keluarga Pacific Place Edukasi Pencegahan Anak Stunting

Maya Rosfi'ah

Ada Putusan Sidang MK, Penumpang KA di Stasiun Gambir Diimbau Berangkat Lebih Awal

Maya Rosfi'ah

Densus 88 Tangkap 8 Terduga Teroris di Jakarta dan Bekasi pada Hari Ini, Ada yang Pasutri

Maya Rosfi'ah

Komplotan Begal yang Nekat Bacok Korbannya Ditangkap Polisi di Bekasi Beraksi di Depok

Maya Rosfi'ah

Seorang Mahasiswi Universitas Trisakti Tewas Tertimpa Keramik, Alami Luka Parah di Bagian Kepala

Maya Rosfi'ah

Leave a Comment