Image default
Nasional

KPK Periksa 1 Orang Saksi Terkait Kasus Suap & Gratifikasi Mantan Sekretaris MA Nurhadi

Penyidik Komisi Pemberantasan (KPK) terus mengusut kasus dugaan suap dan gratifikasi terkait perkara di Mahkamah Agung (MA) pada tahun 2011 2016. Pengusutan dilakukan dengan memeriksa seorang saksi bernama Agus Andrian dari pihak swasta. Agus akan diperiksa sebagai saksi untuk melengkapi berkas penyidikan tersangka Nurhadi, bekas Sekretaris MA.

"Yang bersangkutan diperiksa untuk tersangka NHD [Nurhadi]," kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri dalam keterangannya, Rabu (1/7/2020). Belum diketahui apa yang menjadi fokus penyidik dalam pemeriksaan itu. Dalam kasus mafia hukum di MA ini, Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal (MIT) Hiendra Soenjoto diduga kuat telah menyuap dua tersangka lainnya yakni, mantan Sekretaris MA Nurhadi dan menantunya, Rezky Herbiyono.

Adapun, suap diberikan berupa sembilan lembar cek dengan total Rp46 miliar. Suap ditujukan untuk menangani sebuah perkara di MA. Perkara yang ditangani pertama, berasal dari kasus perdata PT MIT melawan PT Kawasan Berikat Nusantara (Persero) atau PT KBN, dan perkara perdata saham di PT MIT. Dalam penanganan perkara itu, Hiendra diduga meminta, memuluskan penanganan perkara Peninjauan Kembali (PK) atas putusan Kasasi Nomor: 2570 K/Pdt/2012 antara PT MIT dan PT KBN.

Kedua, pelaksanaan eksekusi lahan PT MIT di lokasi milik PT KBN oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara agar dapat ditangguhkan. Selain itu, Nurhadi juga diminta Hiendra untuk menangani perkara sengketa saham PT MIT yang diajukan dengan Azhar Umar. Hiendra diduga telah memberikan uang sebesar Rp33,1 miliar kepada Nurhadi melalui Rezky. Penyerahan uang itu dilakukan secara bertahap dengan total 45 kali transaksi.

Beberapa transaksi juga dikirimkan Hiendra ke rekening staf Rezky. KPK menduga, penyerahan uang itu sengaja dilakukan agar tidak mencurigakan penggelembungan pengiriman uang. Sebab, nilai transaksi terbilang besar Sedangkan, penerimaan gratifikasi Nurhadi, diduga telah menerima berupa uang sebesar Rp12,9 miliar melalui Rezky. Uang tersebut diperuntukan guna memuluskan penanganan perkara terkait sengketa tanah di tingkat kasasi dan PK di MA dan permohonan perwalian. Uang itu diterima Nurhadi dalam rentang waktu Oktober 2014 hingga Agustus 2016.

Nurhadi dan Rezky disangka melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b subsider Pasal 5 ayat (2) lebih subsider Pasal 11 dan/atau Pasal 12B Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP. Sementara itu, Hiendra disangka melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b subsider Pasal 13 Undang Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke 1 juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP. Hingga saat ini, penyidik KPK telah berhasil menangkap Nurhadi dan Rezky.

Mereka baru ditangkap pasca empat bulan ditetapkan buron oleh lembaga antirasuah itu. Dengan demikian, hanya seorang tersangka yakni, Direktur MIT Hiendra Soenjoto yang belum diringkus oleh penyidik.

Berita Terkait

Imam Nahrawi Divonis Pidana Penjara Selama 7 Tahun BREAKING NEWS

Maya Rosfi'ah

Dua Polisi Aktif Diduga Pelaku Penyiram Air Keras Terhadap Novel Baswedan Jadi Tersangka

Maya Rosfi'ah

Kemenaker Berencana Buka Pengiriman PMI menuju Hong Kong & Taiwan

Maya Rosfi'ah

Ki Gendeng Pamungkas Meninggal Dunia di RS Mulia Bogor BREAKING NEWS

Maya Rosfi'ah

Kemendagri Apresiasi Sikap Positif Anies Baswedan Saat Tanggapi Pernyataan Tito Karnavian

Maya Rosfi'ah

VIRAL Video Ibu-ibu Pembeli Bentak & Maki Anggota TNI karena Tak Terima Diingatkan Memakai Masker

Maya Rosfi'ah

KSAL Teken Nota Kesepahaman dengan Tiga Dirut Bank Nasional

Maya Rosfi'ah

Ingat Lagi Pengakuan 2 Terdakwa Penganiayaan Novel Baswedan Dituntut 1 Tahun Penjara

Maya Rosfi'ah

Kompolnas Tanggapi Terpilihnya Iwan Bule sebagai Ketua Umum PSSI

Maya Rosfi'ah

Leave a Comment