Image default
Otomotif

Menurut Aturan, Mobil LCGC dari Sononya Memang Tidak Boleh Pakai BBM Premium dan Pertalite

Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) mengatakan, bahan bakar berkualitas rendah seperti Premium 88, Solar, Dexlite, dan Pertalite 90, ikut menyumbangkan tingginya polusi udara di DKI Jakarta, melalui emisi gas buang kendaraan bermotor. Karena itu, Ahmad Safrudin, Direktur Eksekutif KPBB menyarankan agar pemerintah menghentikan produksi dan penjualan keempat jenis bahan bakar minyak (BBM) itu. Perlu diketahui, sejak regulasi low cost green car/LCGC alias mobil murah terbit pada 2013 sudah dijelaskan bahwa mobil yang masuk dalam kategori itu harus memenuhi spesifikasi BBM minimal Research Octane Number (RON) 92 atau setara Pertamax.

Ketentuan itu juga tertuang dalam Peraturan Menteri (Permen) Perindustrian No. 33/M IND/PER/7/2013, tentang Pengembangan Produksi Kendaraan Bermotor Roda Empat yang Hemat Energi dan Harga Terjangkau (PPKB). Perihal aturan BBM minimal untuk LCGC bermesin bensin tertulis pada Pasal 2 ayat 2a. Aturan tentang penggunaan minimal BBM RON 92 juga tertulis dalam Peraturan Direktur Jendral Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi No. 25/IUBTT/PER/7/2013 tentang Petunjuk Teknis PPKB. Ketentuan itu tertera pada Bab II TAHAPAN Nomor 3a dan wajib dipenuhi merek LCGC agar mendapat fasilitas keringanan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).

Saat ini merek yang ikut program mobil murah itu seperti Daihatsu dengan Ayla dan Sigra, Datsun Go, dan GO+ Panca, Honda Brio Satya, Suzuki Karimun Wagon R, dan Toyota Agya dan Calya. Semua agen pemegang merek (APM) yang memproduksi mobil LCGC juga menyarankan pemilik mobil murah tetap menggunakan BBM RON 92. Alasan utama, semua model LCGC dirancang menggunakan BBM dengan oktan lebih tinggi dari Premium dan Pertalite.

Tapi pada kenyataannya banyak di temukan pemilik mobil murah mengisi BBM jenis Premium dan Pertalite. Padahal efek jangka panjang bisa mempengaruhi atau menurunkan kinerja mesin. Sapta Agung Nugraha, Service Head Auto2000 cabang Bekasi Barat, mesin mobil murah termasuk yang sudah Euro IV semestinya menggunakan BBM Research Octane Number (RON) di atas 95, untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Hal tersebut karena kompresi tinggi, yaitu 11:1, sehingga pembakaranya lebih sempurna.

"Sehingga dengan RON di atas 95 akan lebih mudah mendapatkan performa maksimal, lebih irit dan dalam jangka waktu panjang menghindari ruang bakar terjadi kerak karbon yang banyak," ujar Sapta kepada Kompas.com beberapa waktu lalu. Jika mobil dipaksa mengkonsumsi BBM jenis Premium dan Pertalite maka akan timbuk efek buruk pada sektor mesin, terutama buat jangka waktu yang panjang. "Pembakaran menjadi kurang maksimal, dan jangka panjangnya bisa timbul kerak karbon yang lebih banyak, sehingga yang dirasakan mesin menjadi ngelitik (knocking) dan boros BBM," ucap Sapta lagi.

Berita Terkait

Kawasaki Ninja ZX-25R 4 Silinder Kabarnya akan Dijual di Atas Rp100 Juta

Maya Rosfi'ah

Trio Builder Indonesia Bawa Pulang Segudang Inspirasi dari Negeri Paman Sam

Maya Rosfi'ah

Silakan Geser menuju BMW Astra Cilandak hendak Mobil Klasik Bisa Lolos Uji Emisi

Maya Rosfi'ah

Duet Rider Ini Siap Jelajahi Jawa Sampai Flores buat Berburu Keanekaragaman Kopi

Maya Rosfi'ah

Beli Mobil bisa dapat Hadiah Mobil Promo Mitsubishi Akhir Tahun

Maya Rosfi'ah

Tanda-tanda Toyota Innova Baru Bakal Rilis pada Maret 2020

Maya Rosfi'ah

Dominations Audio Kenalkan Dua Pilihan Baru Digital Sound Processor untuk Mobil

Maya Rosfi'ah

dari Harga Rp 16 Jutaan hingga Rp 80 Jutaan Harga Motor Matic Honda 2019

Maya Rosfi'ah

Industri Otomotif Asal Rusia Bersiap Masuk Pasar Indonesia

Maya Rosfi'ah

Leave a Comment