Image default
Nasional

Novel Baswedan Heran Ada Jenderal Polisi Bintang 2 Ikut Membela Terdakwa

Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan merasa heran ketika ada jenderal polisi bintang dua menjadi pengacara dua terdakwa dalam kasus penyiraman air keras kepada dirinya. Diketahui, tim kuasa hukum dua terdakwa kasus penyerangan terhadap Novel, Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis, berasal dari Divisi Hukum Polri yang diketuai oleh Irjen Rudy Heriyanto Adi Nugroho. Alumni Sekolah Inspektur Polisi Sumber Sarjana 1993 ini sebelumnya menjabat Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya menggantikan Krishna Murti pada Agustus 2016.

Saat menjabat Dirkrimum Polda Metro Jaya, Rudy menangani kasus penyiraman air keras terhadap Novel. Namun, tersangka kasus ini baru dimunculkan saat ia tak lagi menangani kasus tersebut, yakni saat Dikrimum Polda Metro dijabat Suyudi Ario Seto. Novel mencontohkan kasus yang bisa saja menjerat anggota Polri, seperti polisi yang kena kasus narkoba.

Menurut dia, tidak banyak anggota Polri yang sampai dibela seorang jenderal. "Tapi kalau diaturannya yang saya dengar diperaturannya disebutkan bahwa kalau kaitan dengan tugas. Kalau serang saya kan' bukan tugas. Yang kedua kita lihat lagi, yang ngebela jenderal loh, turun langsung," katanya. Novel bisa memaklumi sesama anggota Polri berkewajiban menjaga nama baik institusi.

Namun ia mempertanyakan kenapa kasus yang menjerat Rahmat dan Ronny sangat diperhatikan. Apa lagi, ia menggarisbawahi, ketika tim divisi hukum Polri menyebut bahwa kerusakan pada mata kirinya disebabkan akibat salah penanganan. "Kalau dilakukannya membabibuta begitu justru malah mencemarkan nama baik Polri. Contohnya begini, dalam pembelaan disebutkan bahwa mata kiri saya sakit karena salahnya penanganan.

Kata kata itu, salah penanganan, harus berbasis ilmu pengetahuan. Contohnya begini, kalau ada orang kakinya patah, dan patahnya tidak bisa disambung," tutur Novel. "Jadi kalau pembelaan juga mesti ingat ada hal hal yang terkait pembelaan, tapi menjaga nama baik institusi juga penting," ia menambahkan. Poin lain yang digarisbawahi Novel adalah soal terdakwa yang mengaku menyerang dirinya dengan alasan dendam pribadi, menganggap Novel menyerang institusi Polri. Novel pun tak memercayainya.

"Saya kok tidak percaya ya. Logikanya begini, ini bisa dikonfirmasi dengan Polri. Saya percaya institusi Polri, karena saya sering interaksi apalagi bersama anggota Brimob. Saya pernah beberapa kali berkegiatan operasi bersama anggota Brimob," kata Novel. Sebagaimana diketahui, Rahmat dan Ronny berasal dari satuan Brigade Mobil (Brimob). Menurut Novel, anggota Brimob biasanya memiliki idealisme dan disiplin yang baik. Anggota Brimob juga, kata dia, hidup dalam kesederhanaan.

"Anggota Brimob yang hidupnya sederhana, dan saya belum pernah mendengar ada anggota Brimob yang menggunakan kekuasaannya atau kewenangannya untuk korupsi. Karena memang tidak ada. Terus kalau dikatakan dianggapnya saya menyerang segala macam, terus benci, tidak masuk akal," kata Novel. "Kalaupun ada anggota Polri atau pejabat siapapun dia, yang benci dengan perilaku saya memberantas korupsi. Tentulah dia sedang melakukan itu. Sedang melakukan praktek praktek korupsi untuk mencari uang dengan jumlah besar, itu pasti benci. Saya bisa memahami kalau itu benci. Dan itu logis," imbuhnya.

Merujuk Peraturan Kapolri Nomor 2 Tahun 2017 tentang Tata Cara Pemberian Bantuan Hukum oleh Kepolisian, polisi dibolehkan memberi bantuan hukum atau menjadi kuasa hukum anggota polisi lainnya yang berperkara. Bantuan hukum tersebut menjadi tanggung jawab Kepala Divisi Hukum Polri dengan cara polisi yang berperkara mengajukan permohonan melalui kepala satuan kerja. Polisi dapat menjadi kuasa hukum di tingkat penyidikan, penuntutan, dan semua tingkat peradilan.

Diketahui, dua terdakwa penyiraman air keras kepada Novel, yakni Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis telah dituntut satu tahun penjara oleh jaksa penuntut umum. Dalam pertimbangannya, jaksa menyatakan terdakwa tak sengaja menyiram air keras hingga mengenai mata Novel. Terdakwa disebut memiliki motif dendam akibat kasus sarang burung walet yang pernah menjerat Novel.

Berita Terkait

Semangatnya Satu Bendera Dibakar Satu Juta Bendera Berkibar Kader PDIP

Maya Rosfi'ah

Fadli Zon Minta Patroli di Laut Natuna Dilengkapi Drone

Maya Rosfi'ah

Terlibat Pembunuhan Mantan TNI yang Ditangkap karena Tuntut Jokowi Mundur Jejak Kasus Ruslan Buton

Maya Rosfi'ah

Jaksa Agung Baru di Kabinet Jokowi Ternyata Adik Kandung Politisi PDIP

Maya Rosfi'ah

Ade Armando Disomasi PW Pemuda Muhammadiyah Jateng Postingannya Dianggap Mencemarkan Nama Baik

Maya Rosfi'ah

Pasien Baru di RSPI Sulianti Saroso Miliki Riwayat Kontak dengan Grup Dansa & Bepergian menuju Jepang

Maya Rosfi'ah

Sejumlah Wilayah Waspada Hujan Lebat hingga Angin BMKG Peringatan Dini Cuaca Hari Ini 16 April 2020

Maya Rosfi'ah

Terbang menuju Jakarta buat Seleksi CPNS di BKN Ditya Timur Aska

Maya Rosfi'ah

Terkendala Sejak 2017 ‘Singgung’ Anies Baswedan Soal Normalisasi Sungai Ciliwung Presiden Jokowi

Maya Rosfi'ah

Leave a Comment