Image default
Kesehatan

Pagi Ini Kualitas Udara di Jakarta Masih Tidak Sehat, Gunakan Masker Saat Beraktivitas di Luar Rumah

Kualitas udara di Jakarta Berdasarkan situs pemantau kualitas udara internasional AirVisual pada Senin (12/8/2019) pagi sekitar pukul 06.00 WIB masih berada pada level merah. Artinya, kualitas udara di Jakarta tidak sehat bagi warga Ibu Kota, terutama bagi warga yang beraktivitas di luar rumah. Pada laman resmi AirVisual tercatat bahwa Jakarta mempunyai indeks kualitas udara atau air quality index (AQI) sebesar 159 dengan parameter berupa partikel polutan sangat kecil berdiameter kurang dari 2,5 mikrometer (PM 2.5).

Sementara itu, untuk konsentrasi PM 2.5 di udara Jakarta saat ini sebanyak 71 mikrogram per meter kubik. Atau berada di atas angka standar yang ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang 25 mikrogram per meter kubik dalam jangka waktu 24 jam. Jakarta pun masih berada di posisi teratas sebagai Ibu Kota negara dengan polusi udara terburuk di dunia.

Wilayah Pegadungan, Jakarta Barat, berada di peringkat atas tingkat polusinya Dnegan AQI 191. Lalu di bawahnya ada wilayah US Embassy, Jakarta Selatan dengan AQI 161 dan Pejaten Barat dengan AQI 159. Dengan rata rata angka AQI tersebut, kualitas udara di Jakarta dapat mengakibatkan gangguan pada paru paru dan jantung.

Kelompok sensitif mempunyai risiko tinggi terganggu kesehatannya akibat kualitas udara buruk saat ini. Untuk itu, kelompok sensitif direkomendasikan mengurangi kegiatan luar ruangan. Sementara masyarakat yang berkegiatan di luar rumah dianjurkan untuk mengenakan masker polusi.

Kota Jakarta tercatat sebagai kota dengan polusi udara terburuk di dunia pada Kamis (1/8) lalu. Polusi udara dan kabut asap akan berdampak buruk bagi kesehatan, dengan dampak yang akan terasa dalam jangka pendek, maupun jangka panjang. Kualitas udara di suatu titik atau wilayah, apabila dilihat berdasarkan nilai Air Quality Index, dapat berada antara kualitas baik (<50), sedang (51 100), kurang sehat (101 150), tidak sehat (151 200), sangat tidak sehat (201 300) dan berbahaya (>300). Penting bagi masyarakat untuk mengetahui kadar AQI saat bermaksud beraktivitas ke luar rumah.

Pada saat AQI berkisar antara 100 150, kelompok sensitif sudah harus waspada dan jika angkanya (>150) seluruh masyarakat harus waspada. Aplikasi AirVisual mencatat, pada 25 Juni 2019 pagi, nilai air quality index (AQI) di Jakarta mencapai angka 240. Padahal batas maksimal udara berkualitas baik dan bersih maksimal hanya 50. “Dampak polusi udara sangat berbahaya terhadap kesehatan paru paru. Sebagai organ pernapasan paling akhir, paru paru menjadi tempat bersarangnya partikel partikel sangat kecil dan berbahaya yang terkandung dalam polusi udara," kata dr. Feni Fitriani Taufik, dokter spesialis paru dan pernapasan konsultan paru kerja dan lingkungan di RS Pondok Indah – Bintaro Jaya, dalam siaran pers, Kamis.

Ketika partikel berbahaya dalam polusi terus terhirup, ada rangsangan perubahan sel dalam saluran pernapasan, diserap ke pembuluh darah, dan menyebar ke berbagai organ tubuh. Dalam waktu yang lama akan terjadi peradangan sistemik, penurunan fungsi paru, merangsang terbentuknya risiko penyempitan pembuluh darah. Bahkan memicu sejumlah penyakit kronik seperti kanker paru, Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), stroke, penyakit jantung, serta diabetes.

Ia memberi tips menjaga kesehatan paru agar tubuh tetap sehat di tengah udara penuh polusi. Jalani pola hidup yang sehat dengan mengonsumsi makanan bergizi dan berolahraga rutin untuk menjaga daya tahan tubuh. Stop kebiasaan merokok. Udara yang kita hirup kualitasnya sudah sangat buruk, jangan diperparah dengan kebiasaan merokok.

Gunakan masker, apabila keluar rumah saat kualitas udara tidak sehat. Masker yang ideal adalah dengan tipe N95 yang efektif menangkal partikel PM2.5 hingga 95 persen karena dilengkapi dengan lapisan penyaring khusus, penggunaannya harus secara benar, tidak ada kebocoran sehingga fungsi perlindungannya juga optimal. Namun ada keterbatasan penggunaan masker N95 yaitu rasa tidak nyaman bagi penggunanya karena pemasangannya harus rapat. Hindari terlalu lama berada di luar ruangan, terutama pada daerah berpolutan tinggi atau pada saat kadar polutan tinggi.

Anda bisa mengunduh aplikasi Air Visual atau semacamnya, sebelum bepergian ke suatu daerah untuk mengecek kualitas udara di daerah tersebut Cek berkala kesehatan paru.

Berita Terkait

Ilmuwan Sebut Tak Perlu Khawatir Terungkap Strain Terbaru Virus HIV Setelah Hampir 20 Tahun

Maya Rosfi'ah

5 Langkah Antisipasi Kejadian Luar Bisa Hepatitis A di Pacitan

Maya Rosfi'ah

Dikenal Menyehatkan, Baiknya Jangan Beri Air Kelapa Muda Jika Orang Mengalami 5 Kondisi Ini

Maya Rosfi'ah

Yuk Ketahui Ciri Hamil Anak Laki Akurat dengan Cara Berikut Ibu Hamil Wajib Tahu

Maya Rosfi'ah

Menkes Terawan Janjikan Kenaikan Kualitas Layanan Iuran BPJS Naik

Maya Rosfi'ah

Reaksi Masyarakat Atas Ucapan Menkes Terawan Salahkan Pembeli Masker Harga Mahal yang Viral

Maya Rosfi'ah

Tidak Pernah Sakit Serius, Bocah 15 Tahun Divonis Leukemia

Maya Rosfi'ah

Ini Penjelasannya Kenapa Penyakit ISPA & Diare Kerap Menyerang di Musim Pancaroba

Maya Rosfi'ah

Perawatan Luka Pascaoperasi Sunat Kadang Bikin Anak Rewel

Maya Rosfi'ah

Leave a Comment