Image default
Nasional

Perlu Ketemu Beliau! Yunarto Wijaya Puji Nyali Pendeta Bongkar Korupsi di Kalteng Laode Tandai KPK

Direktur Charta Politika, Yunarto Wijaya memberikan pujiannya untuk seorang pendeta bernama Mariyady. Pasalnya, sang pendeta ini berani membongkar soal praktik korupsi di daerah Sare Rangan, Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Pujian Yunarto Wijaya untuk pendeta itu pun mendapat tanggapan dari Laode M Syarif, mantan komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK).

Dalam sebuah video yang diembed oleh Yunarto Wijaya, tampak sosok sang pendeta, Mariyady menceritakan kisahnya ketika ditugaskan ke Sare Rangan, Kalimantan Tengah tahun 2005. Sang pendeta ini tinggal bersama masyarakat Sare Rangan selama 2 tahun 9 bulan. Menurut sang pendeta, selama ia tinggal di sana, kondisi hutan masih tampak asri. Hewan hewan pun tenang menikmati kehidupannya di hutan.

"Itu menarik bagi saya, ketika membaur dengan kehidupan masyarakat Sare Rangan dengan hutan lebat yang kita bisa tanpa sengaja ataupun sengaja kita bisa melihat orangutan, kera bahkan beruang," paparnya. Akan tetapi, semua pemandangan tersebut berubah seketika di tahun 2016. Hutan yang tadinya hijau lenyap digantikan dengan pohon pohon sawit.

Rupanya, disebutkan bahwa pengalihan fungsi lahan yang tadinya hutan menjadi kelapa sawit ini berawal dari perintah bupati. Bupati korup di Kalimantan Tengah ini membagikan izin izin lahan untuk perusahaan perkebunan demi modal kampanye Pilkada. Bupati Gunung Mas pun sudah ditangkap polisi karena korupsi.

"Ketika Mariyady pulang ke Sare Rangan tahun 2016, hutan yang dulu dia ingat telah dihancurkan oleh perusahaaan sawit," imbuhnya. "Perusahaan itu memperoleh sebuah lahan konsesi luas dari seorang bupati yang kemudian ditangkap polisi karena korupsi," ungkap sang pendeta. "Saya menangis, ternyata semuanya sawit," ujar Mariyady.

Melihat fakta tersebut, pendeta Mariyady pun mengajak jamaatnya untuk melek terhadap kasus ini. "Akhirnya saya tertarik dan merobah pola pikir jemaat, masyarakat Sare Rangan tanpa pandang agama apapun. Saya mengajak mereka," ujar Mariyady. Tak hanya itu, Mariyady pun melakukan investigasi sendiri.

Hasil investigasi tersebut mencengangkan untuk sang pendeta. Ia menemukan bahwa penduduk desa dipaksa menyerahkan tanah dengan uang ganti rugi yang sangat kecil. "Dari investigasi oleh Mariyady, ditemukan bahwa Petani Dayak diberikan uang ganti rugi yang sedikit dari pelepasan lahan yang mereka telah garap secara turun temurun.

Transfer wilayah kini megancam hilangnya budaya mereka dan kehancuran lingkungan di Sare Rangan," papar sang pendeta. Menurut Mariyady, jumlah uang ganti rugi itu sama saja seperti pembunuhan. "Ganti ruginya ada yang Rp 5 juta, Rp 5 juta satu hektar," bongkar pendeta Mariyady.

"Itu sepadan gak?" tanya pewawancara. "Ndak lah, ya makanya itu saya bilang 'pembunuhan'," jawab pendeta. “Ini masyarakat bodoh dibuat bodoh lagi,” kata Mariyady.

“Bupati tahu, pak camat juga tahu. Dimana suara ini? Kenapa masyarakat dibodoh?” tegas Mariyady. Kemudian, Mariyady pun mengungkapkan tanggapannya terkiat hal tersebut, terutama soal alih fungsi hutan jadi perkebunan kelapa sawit. "Saya bukannya anti sawit. Untuk Sare Rangan, Kabupaten Gunung Mas, sawit tidaklah pas. Daerah lain boleh lah.

Saya tahu betul, tanah Sare Rangan itu tanah yang subur. Yang banyak tanaman tanaman atau pohon yang bisa membantu masyarakat. Yang bisa mendukung masyarajkat. "Dampak sawit itu luas, pertama ia tanaman yang tidak bersahabat. Dan itu akan merusak akan merusak lingkungan sekitarnya. Yang kedua, bagi masyarakat Sare Rangan, ndak ada kontribusi. Hutan di situ habis, air tercemar. Tetapi namanya kalau arean tanah sudah dijual dan dimiliki perusahaan tidak akan pernah kembali ke masyarakat. Itu tidak mungkin.

Dan tidak ada tempat, areal mengembang. Diri mereka habis. Ndak ada lagi, karena itu sudah dibeli, dikavling. Dan pelan namun pasti, semua itu akan diambil mereka," tegas sang pendeta. Melihat video tersebut, Yunarto Wijaya memberikan pujiannya.

Menurutnya, nyali pendeta Mariyady ini snagat besat sehingga berani membongkar korupsi ke muka publik. "Pak pendeta, nyali & kasih anda jauh lebih bernilai di mata saya, Dibanding para pendeta dengan kekayaan asset gereja besar, banyak cabang & senang menunduk dgn pemberi perpuluhan besar… Salut!," tulis Yunarto Wjaya, di laman Twitternya.

Unggahan Yunarto Wijaya pun mendapat tangapan dari Laode M Syarif, mantan komisioner KPK. Ia menyebut agar pendeta tersebut melanjutkan kiprahnya membongkar praktik korupsi yang sudah menyengsarakan rakyat kecil. Tak hanya itu, Laode M Syarif juga menandai akun Twitter KPK.

Bahkan, Laode M Syarif meminta agar KPK bertemu dengan sang pendeta untuk menggali lebih jauh informasi tersebut. "Lanjutkan pak Pendeta @KPK_RI perlu ketemu beliau," tulis Laode M Syarif Tanggapan dari Laode M Syarif ini pun lantas dibagikan ulang oleh Yunarto Wijaya. (*)

Berita Terkait

NTB Jawa Timur Jawa Tengah Daftar UMK di 6 Provinsi Besar DKI Jakarta Mana yang Paling Besar

Maya Rosfi'ah

Takut Ahok Akan Membersihkan Birokrasi Penolakan Masuknya Ahok menuju BUMN Staf Khusus Menteri BUMN

Maya Rosfi'ah

Mulai Pukul 08.00 WIB buat PAUD Link Live Streaming TVRI Belajar dari Rumah Rabu 10 Juni 2020

Maya Rosfi'ah

Cepet Dong Bertindak Ungkap Curhatan Pramugari Kepadanya Hotman Paris Ngadu menuju Erick Thohir

Maya Rosfi'ah

Jangan Sampai Ada Klaster Baru dari Penyelenggaraan Salat Idul Adha Menko PMK

Maya Rosfi'ah

Pembebasan Bersyarat Henry J Gunawan Tabrak Permenkumham

Maya Rosfi'ah

Batas Lapor Mundur menuju 30 April Panduan LOGIN DJP Online buat Lapor SPT Tahunan

Maya Rosfi'ah

Politisi PDIP Minta Biaya Perawatan Pasien Covid-19 Dievaluasi Menanggapi Erick Thohir

Maya Rosfi'ah

6 Juta PNS Menteri Tjahjo Kumolo Bakal Pecat 1 Reformasi Birokrasi di Era Jokowi

Maya Rosfi'ah

Leave a Comment