Image default
Nasional

Respons Polri Soal Desakan buat Periksa 4 Saksi Ini Dalam Sengkarut Kasus Djoko Tjandra

Masyarakat Anti Korupsi Indonesia ( MAKI) mengusulkan empat orang saksi untuk diperiksa dalam kasus surat jalan dan bebas Covid 19 palsu terpidana kasus korupsi Djoko Tjandra saat menjadi buronan interpol. Usulan tersebut dikirimkan kepada Kabareskrim Polri, Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo. Menanggapi hal itu, Karo Penmas Humas Polri Brigjen Awi Setiyono mengatakan pihaknya akan mengevaluasi terkait empat saksi yang disebut oleh MAKI.

Ia akan memeriksa apakan ada kaitannya dalam kasus tersebut. "Kalau ada info dari luar, tentu akan dievaluasi dikroscek, apa betul nama yang diajukan betul memang ada kaitannya dengan kasus tersebut," kata Awi di Bareskrim Polri, Jakarta, Senin (10/8/2020). Namun demikian, Awi menegaskan penyidik tak bisa dipesan atau ditekan oleh publik di dalam suatu perkara.

Penyidik polri bergerak secara professional untuk mengusut kasus tersebut. Sebaliknya, imbuh Awi, siapapun yang terlibat di dalam kasus tersebut sudah otomatis akan diperiksa oleh penyidik polri. "Kami tidak ada pesanan atau tekanan, penyidik bekerja secara profesiona. Jadi siapapun yang telribat dalam kasus ini dan tertuang dalam BAP pasti akan dikejar penyidik. Selama ada benang merahnya dengan kasus tentunya akan dilakukan pemanggilan," pungkasnya.

Sebagai informasi, Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) mengusulkan empat orang saksi untuk diperiksa dalam kasus surat jalan dan bebas Covid 19 palsu terpidana kasus korupsi Djoko Tjandra saat menjadi buronan interpol. MAKI menyampaikan usulan itu dengan berkirim surat resmi yang ditujukkan kepada Kabareskrim Polri Komjen Listyo Sigit Prabowo. Keempat saksi tersebut diharapkan untuk bisa menjadi pengembangan kasus sengkarut buronan Djoko Tjandra.

Koordinator MAKI Boyamin Saiman mengatakan keempat saksi itu di antaranya berasal dari pihak swasta dan satu merupakan aparat penegak hukum Kejaksaan Agung RI. "Kami menyampaikan saksi yang terkait dengan tersangka Brigjen Prasetyo Utomo dan Anita Kolopaking yang saat ini tahap penyidikan di Bareskrim Polri terkait sengkarut Djoko Tjandra," kata Boyamin di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Senin (10/8/2020). Saksi pertama adalah Tommy S yang merupakan pihak swasta yang tinggal di daerah Jakarta Pusat.

Saksi itu diduga meminta Brigjen Prasetijo untuk diperkenalkan dengan pejabat di Divhubinter Mabes Polri yang membawahi NCB Interpol Indonesia. "NCB Interpol Indonesia kemudian diketahui memberitahu Imigrasi Indonesia yang berisi red notice Djoko S Tjandra telah terhapus dengan alasan sejak tahun 2014 tidak diperpanjang Kejaksaan Agung," jelasnya. Diungkapkan Boyamin, Tommy diberitakan orang dekat dengan mantan perdana menteri Malaysia, Najib Razak.

Pasalnya, anak perempuan Tommy diketahui bertunangan dengan anak Najib Razak. "Dimana Najib Razak diduga berteman dengan Djoko S Tjandra sewaktu Djoko S Tjandra berada dan berbisnis di Malaysia," jelasnya. Saksi kedua adalah Viady S yang juga berasal dari pihak swasta.

Menurutnya, Viady adalah rekan kerja dari Djoko Tjandra yang diduga saat ini tinggal di Jakarta atau Bali. Berdasarkan pemberitaan, kata Boyamin, Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Hotel Mulia Bali yang saat ini atas nama Viady, sebelumnya atas nama Djoko Tjandra. Berdasarkan cuitan akun Twitter @xdigeeembok, terdapat dugaan keterkaitan dengan Prasetijo.

Viady terbang dengan pesawat carter PK TWX pada 22 Juni 2020 ke Jakarta atau Pontianak diduga bertemu dengan Djoko Tjandra. "Yang mana pada 6 Juni 2020 Prasetijo pernah terbang dengan pesawat yang sama untuk bertemu Djoko di Pontianak termasuk memberikan surat jalan dan surat kesehatan tes covid 19 pada 19 Juni 2020," jelasnya. Boyamin menyebut saksi ketiga adalah Rahmat S yang juga berasal dari pihak swasta.

Ia adalah Pengawas Koperasi Nusantara. Dalam perannya di kasus ini, dia mengajak Anita Kolopaking untuk menjadi kuasa hukum Djoko Tjandra. Diketahui, Rahmat diduga dua kali terbang ke Kuala Lumpur untuk bertemu dengan Djoko.

"Yang pertama tanggal 12 November 2019 terbang bersama Pinangki Sirna Malasari (Seorang Jaksa, Red) dan kedua tanggal 25 November 2019 bersama Pinangki Sirna Malasari dan Anita Kolopaking," ungkapnya. Saksi keempat atau terakhir adalah Seorang Jaksa perempuan bernama Pinangki Sirna Malasari. Dia juga diduga mengajak Anita menjadi kuasa hukum Djoko Tjandra.

Selanjutnya, ia pernah pergi ke Malaysia dua kali untuk bertemu buronan korupsi Djoko Tjandra. Waktu keberangkatannya sama seperti Rahmat sekitar November 2019 lalu. "Saksi adalah orang yang diduga mengetahui, melihat, mendengar suatu peristiwa yang atas keterangannya diharapkan menjadikan terang peristiwa tersebut. Saksi belum tentu terlibat, namun keterangannya diperlukan untuk menambah dan memperkuat alat bukti," tukasnya.

Berita Terkait

Pernyataan ICW yang Sebut Jokowi Sponsor Kehancuran KPK Dinilai Kasar & Tak Etis

Maya Rosfi'ah

Ade Armando Disomasi PW Pemuda Muhammadiyah Jateng Postingannya Dianggap Mencemarkan Nama Baik

Maya Rosfi'ah

Jelaskan Hal Apa Saja yang Dapat Kamu Lakukan buat Gerakan Sadar Energi di Rumahmu! SD Kelas 4-6

Maya Rosfi'ah

DPRD DKI Minta Dinkes DKI Tak Abai Soal Ancaman DBD Di Tengah Wabah Corona

Maya Rosfi'ah

Hanya Orang Tumpul Rasa Kemanusiaan Tidak Terima Pembebasan Napi Yasonna

Maya Rosfi'ah

Perppu Pilkada Luput Mengatur Soal Anggaran Perludem

Maya Rosfi'ah

SD Kelas 4-6 Apa Saja Kegiatan Manusia yang Berdampak Positif & Negatif Terhadap Kelestarian Air

Maya Rosfi'ah

Pernah Sodorkan Beberapa Nama 7 Triliun Ngaku ‘Dijebak’ Dulu Maria Pauline Pembobol BNI Rp 1

Maya Rosfi'ah

Pernah Ikut Pilkada DKI Lawan Jokowi-Ahok Cawagub DKI Usulan Gerindra & PKS Profil Riza Patria

Maya Rosfi'ah

Leave a Comment