Image default
Lifestyle

Selingkuh Bisa Berawal dari Curhat menuju Teman Lawan Jenis Hati-hati

Perselingkuhan merupakan hal yang sangat tidak diharapakan terjadi dalam sebuah hubungan pernikahan. Banyak faktor yang menjadi penyebab perselingkuhan. Curhat dengan teman lawan jenis mengenai konflik yang terjadi di dalam sebuah hubungan berisiko terjadinya perselingkuhan.

Namun apa yang dimaksud dengan selingkuh? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), selingkuh ialah suka menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri; tidak berterus terang; tidak jujur; curang; serong. Psikolog dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Hudaniah, mengungkapkan ada sejumlah penafsiran mengenai selingkuh.

Seperti selingkuh hati, menjalin hubungan, maupun selingkuh secara fisik. "Adanya keterlibatan emosi antara satu orang dengan orang lain yang bukan pasangan," imbuhnya. Sementara itu Hudan juga menyebut curhat kepada lawan jenis yang bukan bagian dari keluarga dapat berisiko perselingkuhan.

Terlebih, curhat yang disampaikan berkenaan dengan konflik yang sedang terjadi bersama pasangan. "Lawan jenis (tempat curhat) dianggap memahami, padahal itu hanya karena orang itu tidak berada dalam konflik," ujarnya. Menurut Hudan, orang lain yang dituju sebagai tempat curhat nampak lebih memahami.

"Orang lain nampak lebih hijau, lebih bisa memahami, padahal itu karena mereka bukan yang sedang bekonflik," imbuhnya. Hudan menilai upaya curhat seperti ini justru bisa berujung perselingkuhan. "Jadi ada pemenuhan emosional dari orang lain, ada alternatif lain ke pihak lain ketika ada permasalahan dengan pasangan," ujarnya.

Menurut Hudan, sebisa mungkin pasangan menyelesaikan sendiri konflik yang terjadi tanpa melibatkan orang lain. "Sebisa mungkin ya diselesaikan pasangan sendiri, namun kadang kala membutuhkan mediator," ungkapnya. Ketika mediator dibutuhkan, Hudan menyarankan mencari mediator dari pihak keluarga.

"Kalau ada keluarga yang dinilai bijak, yang tidak memihak, bisa disampaikan," ujarnya. Namun apabila merasa segan untuk curhat dengan anggota keluarga, dapat menggunakan pihak lain yang profesional. "Bisa ke ahli agama, atau tenaga profesional semacam penasihat perkawinan," ungkap Hudan.

Namun jika terpaksa curhat kepada orang di luar keluarga, maka harus memilih teman sesama jenis. "Misalkan teman ya yang sesama jenis," ucapnya. Biasanya, menurut Hudan, curhat akan lebih banyak menyampaikan sisi jelek pasangan.

"Padahal sementara memutuskan untuk menikah tentu disertai ada pertimbangan, ada positif ada negatif," ungkapnya. Menurut Hudan, bila ada rambu rambu yang agak mengkhawatirkan saat curhat, lebih baik curhat kepada tenaga profesional. "Para pelaku perselingkuhan ini bisa jadi merupakan orang orang yang insecure, yang secara psikologis tidak aman," ungkapnya.

"Yang masih membutuhkan sekali pengakuan dari orang lain, padahal sudah memiliki pasangan sudah memiliki keluarga," imbuhnya. Di era perkembangan teknologi komunikasi saat ini, Hudan menilai media sosial berperan besar dalam perselingkuhan. "Media sosial, media komunikasi membuat peluang untuk awal terjadinya ketidaksetiaan terhadap pasangan menjadi terbuka lebar," ungkapnya.

Hudan mencontohkan, awal perselingkuhan bisa terjadi saat pertemuan langsung yang dilanjutkan melalui media sosial. "Misalnya melalui tadinya semacam reuni, berlanjut di media sosial, kemudian bertemu secara fisik, bahkan mungkin sampai ada ketertarikan dan hubungan seksual," ungkap Hudan. Selain itu fenomena lain perselingkuhan lain yang dijumpai Hudan adalah adanya relasi kerja.

"Rekan kerja sekantor, rekan bisnis, itu juga menimbulkan peluang," ungkap Hudan. Hudan mengungkapkan ada orang yang bangga ketika merasa disukai banyak orang. "Ada rasa bangga ketika dia merasa dicintai banyak orang, merasa disukai banyak orang, merasa harga dirinya meningkat," ujarnya.

Bahkan perasaan ini bisa semakin meningkat ketika sudah berpasangan. "Apalagi mungkin baik laki laki atau perempuan sudah menikah masih ada orang lain yang menyukai, akan merasa bangga," ungkap Hudan. Menurut Hudan, ada sebuah kepuasan perkawinan yang dirasakan setiap pasangan.

"Itu sifatnya subyektif, setiap orang merasakan dalam perkawinan itu mendapatkan kebahagiaan, ketentraman, yang ia tidak dapatkan secara sendiri," ujarnya. Namun di dalam perjalanannya, tidak ada satu hubungan yang sempurna. "Kalau kita lihat pasangan tampak harmonis, itu sulit dicapai, sekian persen pasti ada celah yang bisa membuat seseorang dimanfaatkan oleh pihak lain," ucapnya.

Hudan menilai jika celah ini tidak dapat tercover, maka berpeluang terjadi perselingkuhan.

Berita Terkait

Kerja Keras Taurus Akhirnya Akan Terbayar 3 Zodiak Ini Diprediksi Jadi Kaya di Tahun 2020

Maya Rosfi'ah

Ramalan Zodiak Hari Ini 8 Maret 2019 Taurus Siap Siap Dapat Keberuntungan, Pisces Waspadai Penipu!

Maya Rosfi'ah

Mempelai Perempuan Nyaris Ambruk Pria Ini Mengaku Cintai Wanita Lain Tepat di Hari Pernikahannya

Maya Rosfi'ah

5 Zodiak Kutu Buku, Mereka Paling Suka Belajar, Apakah Kamu Termasuk?

Maya Rosfi'ah

Cara Menyilangkan Jari Dapat Ungkap Karakter Sesungguhnya dalam Dirimu Tes Kepribadian

Maya Rosfi'ah

Libra Kena Masalah Scorpio Bikin Iri Sagitarius Bahagia Ramalan Zodiak Sabtu 23 November 2019

Maya Rosfi'ah

Uang Bukan Segalanya hingga Berani Bermimpi 8 Pelajaran Hidup yang Bisa Kita Ambil dari Anak-anak

Maya Rosfi'ah

Terbongkar Rahasia Bikin Ayam Goreng Tepung Renyah Harusnya Dicelup menuju Telur atau Air Es

Maya Rosfi'ah

Berbagi Keluh Kesah dengan Anak Bisa Menghindari Anak dari Pengaruh Negatif Teman Sebaya

Maya Rosfi'ah

Leave a Comment