Image default
Bisnis

Sore Ini Rupiah Tembus Rp 14.932 Per Dollar AS Ditutup Melemah Terhadap Dollar AS

Menyikapi kondisi penyebaran virus corona yang kian melebar, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS berpeluang menuju level psikologis baru yakni Rp 16.000 per dollar AS. Meskipun begitu, investor tak perlu menunggu lama, momentum pelemahan saat ini juga bisa dimanfaatkan oleh pemilik dollar AS untuk mulai melakukan jual. MengutipBloomberg, pada perdagangan awal pekan rupiah ditutup melemah terhadap dollar AS 1,05% ke level Rp 14.932 per dollar AS.

Sejalan dengan itu, pergerakan kurs tengah Bank Indonesia (BI) atau dikenal JISDOR juga mencatatkan pelemahan tipis yakni 0,02% ke level Rp 14.818 per dollar AS pada Senin (16/3/2020). Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo mengungkapkan, dengan pergerakan rupiah saat ini maka peluang harga menuju level psikologis Rp 15.000 per dollar AS kian terbuka. "Pergerakan harga ke Rp 15.000 kemungkinan besar pasti tembus karena kondisi Korona yang semakin menyebar," jelas Sutopo kepada Kontan, Senin (16/3/2020).

Ditambah lagi, saat ini semakin banyak negara yang mulai lockdown dan menyatakan status darurat Korona seperti Amerika Serikat (AS) dan negara negara Eropa. Alhasil, seiring situasi tersebut kondisi ekonomi global pun mulai jatuh, saham saham terjun bebas danmarket cryptojuga mengalamikejatuhan. "Momen seperti ini, setiap orang terutama investor lebih memilih menjual asetnya untuk pegangcash. Cash is the king," tegasnya.

Saat seperti ini, Sutopo menilai semakin banyak investor yang memilih untuk menjual aset saham,crypto, dan aset lainnya demi bisa memiliki lebih banyak dana cash maupun dollar AS. Meskipun begitu, Sutopo juga tidak menampik ke depannya ruang bagi nilai tukar rupiah menuju level Rp 16.000 per dollar AS cukup terbuka. Dia masih optimistis bahwa pemerintah dalam hal ini Bank Indonesia (BI) sudah bersiap untuk melakukan intervensi market untuk mencegah rupiah melemah lebih dalam.

Di sisi lain, pergerakan dollar AS sukses menguat hampir terhadap kebanyakan mata uang global usai Bank Sentral AS atau The Fed umumkan pemangkasan suku bunga acuannya sebanyak 100 basis poin (bps) ke level 0% 0,25%. Pelonggaran kuantitatif juga diluncurkan dalam pengumuman antar pertemuan kedua bank sentral tahun ini setelah wabah corona virus mengancam pertumbuhan global. Pengumuman tersebut, juga menggantikan pertemuan FOMC yang awalnya direncanakan pada Rabu (18/3/2020).

Dengan kebijakan moneter mendorong batas batasnya, hasilGreenbackterkikis dan Ketua Jerome Powell tampaknya menentang tingkat negatif, penghindaran risiko lebih lanjut di pasar dapat menawarkan beberapa momentum kenaikan terhadap mata uang cadangan dunia. Hal ini terjadi setelah dollar AS melihat kerugian langsung terhadap mata uang ASEAN . Sementara itu, Sutopo menilai saat ini sulit untuk BI memangkas suku bunga acuannya, karena harga harga barang mulai menunjukkan kenaikan dan berpotensi mendorong inflasi naik.

Untuk mencegah pelemahan rupiah lebih jauh juga, dia memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga acuannya untuk menyerap dana dana yang beredar liar di luar. "Fokus utama saat ini masih Korona, karena semua sektor terkena imbasnya dan (rupiah masih akan melemah) sampai situasi virus korona mulai mereda. Harga psikologis akan bermain di area Rp 15.000 per dollar AS untuk saat ini," jelasnya. Sutopo mengungkapkan, tak sedikit masyarakat yang memilih untuk menyimpan dollar AS karena ketidakpastian situasi pasar keuangan saat ini.

Namun jika BI melakukan intervensi pasar dan menaikkan suku bunga acuannya, investor diperkirakan akan kembali menjual dollar AS dan dananya akan ditempatkan pada deposito. "Potensinya (BI naikkan suku bunga acuan) 25 bps 50 bps, dengan syarat jika kondisi market masih seperti ini, ada kemungkinan bisa bulan ini atau awal bulan depan," proyeksinya. Bagi investor yang ingin memanfaatkan kondisi saat ini untuk menjual dollar AS, bisa menunggu hingga harga menyentuh kisaran Rp 15.000 per dollar AS atau di Rp 15.200 per dollar AS.

Di sisi lain, pergerakan dollar AS sukses menguat hampir terhadap kebanyakan mata uang global usai Bank Sentral AS atau The Fed umumkan pemangkasan suku bunga acuannya sebanyak 100 basis poin (bps) ke level 0% 0,25%. Pelonggaran kuantitatif juga diluncurkan dalam pengumuman antar pertemuan kedua bank sentral tahun ini setelah wabah corona virus mengancam pertumbuhan global. Pengumuman tersebut, juga menggantikan pertemuan FOMC yang awalnya direncanakan pada Rabu (18/3/2020).

Dengan kebijakan moneter mendorong batas batasnya, hasilGreenbackterkikis dan Ketua Jerome Powell tampaknya menentang tingkat negatif, penghindaran risiko lebih lanjut di pasar dapat menawarkan beberapa momentum kenaikan terhadap mata uang cadangan dunia. Hal ini terjadi setelah dollar AS melihat kerugian langsung terhadap mata uang ASEAN . Sementara itu, Sutopo menilai saat ini sulit untuk BI memangkas suku bunga acuannya, karena harga harga barang mulai menunjukkan kenaikan dan berpotensi mendorong inflasi naik.

Untuk mencegah pelemahan rupiah lebih jauh juga, dia memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga acuannya untuk menyerap dana dana yang beredar liar di luar. "Fokus utama saat ini masih Korona, karena semua sektor terkena imbasnya dan (rupiah masih akan melemah) sampai situasi virus korona mulai mereda. Harga psikologis akan bermain di area Rp 15.000 per dollar AS untuk saat ini," jelasnya. Sutopo mengungkapkan, tak sedikit masyarakat yang memilih untuk menyimpan dollar AS karena ketidakpastian situasi pasar keuangan saat ini.

Namun, begitu BI melakukan intervensi pasar dan menaikkan suku bunga acuannya, investor diperkirakan akan kembali menjual dollar AS dan dananya akan ditempatkan pada deposito. "Potensinya (BI naikkan suku bunga acuan) 25 bps 50 bps, dengan syarat jika kondisi market masih seperti ini, ada kemungkinan bisa bulan ini atau awal bulan depan," proyeksinya. Bagi investor yang ingin memanfaatkan kondisi saat ini untuk menjual dollar AS, bisa menunggu hingga harga menyentuh kisaran Rp 15.000 per dollar AS atau di Rp 15.200 per dollar AS.

Berita Terkait

Rupiah Diprediksi Terkerek Hasil Rapat The Fed

Maya Rosfi'ah

Presiden Ajak Pelaku Usaha UMK Tetap Optimis di Tengah Pandemi Covid-19

Maya Rosfi'ah

Daftar Promo Hari Kemerdekaan 17 Agustus: J.CO, Burger King hingga Holland Bakery

Maya Rosfi'ah

Apindo Khawatir Perusahaan Besar Terancam Kolaps Upah Buruh Naik Terus

Maya Rosfi'ah

Ikuti Kebutuhan Pasar hingga Manfaatkan Media Sosial Tips Bisnis UMKM di Era New Normal

Maya Rosfi'ah

Shoh Enterprise Resmikan Studio Shoh Entertainment di Indonesia

Maya Rosfi'ah

Hyundai Iconic Jadi Armada Taksi Listrik Grab di Terminal 3 Bandara Soetta

Maya Rosfi'ah

Tantangan Startup ‘Gurem’ Lebih Besar Ketimbang Unicorn Soal IPO

Maya Rosfi'ah

Begini Penjelasan Bos CPRO Terkait Harga Sahamnya yang Masih Gocap Bertahun Tahun

Maya Rosfi'ah

Leave a Comment