Image default
Corona

Total Ada Tiga Pasien Suspect Dirawat hingga Kelelawar Dimusnahkan Virus Corona di Solo

Virus Corona atau Covid 19 telah menyebar di Solo. Bahkan pada Selasa (11/3/2020) lalu seorang pasien positif Corona telah meninggal dunia. Pascameninggalnya seorang pasien positif Corona itu, Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) Corona di Solo pada Jumat (13/3/2020).

Dengan penetapan KLB Corona tersebut, Pemkot meliburkan sekolah, menutup tempat wisata dan membatalkan agenda agenda yang melibatkan massa selama dua pekan kedepan. Hingga Sabtu (14/3/2020) kemarin, terdapat tiga pasien suspect Corona dirawat di RSUD Dr Moewardi. RSUD Dr Moewardi merupakan satu satunya rumah sakit rujukan Corona di Kota Solo.

Tiga pasien suspect Corona tersebut dua diantaranya merupakan pasien baru. Hal itu disampaikan oleh Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo. "Update yang saya terima dari Dinas Kesehatan Kota Solo, jumlah pasien yang dirawat di RSUD Dr Moewardi ada tiga, satu adalah pasien lama," terang Rudy, Sabtu (14/3/2020).

Menurut Rudy, pasien yang baru masuk berasal dari Wonogiri, Jawa Tengah. Pasien itu memiliki riwayat sama dengan pasien positif Corona yang meninggal pada Rabu lalu. "Satu pasien lagi dari Wonogiri yang ikut acara seminar yang sama di Bogor dan telah dirawat di RSUD Dr Moewardi Solo," jelas Rudy.

Adapun satu pasien lainnya merupakan seorang tour guide dari Bali. "Satu lagi tour guide dari Bali terindikasi juga sama," imbuhnya. Rudy masih belum bisa memastikan apakah kedua pasien baru tersebut positif corona atau tidak.

"Kalau yang ini belum ditetapkan positif atau tidak," katanya. Setelah ditetapkan KLB pada Jumat (13/3/2020), situasi di Kota Solo terlihat lebih sepi. Pada pukul 08.00 WIB yang biasanya penuh dan sesak dengan pengendara, hanya ada sejumlah kendaraan yang berlalu lalang.

Para pedagang kaki lima yang berada di Jl Slamet Riyadi pun tak terlihat. Hanya sedikit penjalan kaki yang terlihat di jalan protokol tersebut. Termasuk di sekitar pantung Slamet Riyadi, Gladag, Kecamatan Pasar Kliwon arus kendaraan juga tampak sepi.

Kondisi serupa juga terlihat di pintu masuk Kota Solo yang berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo di Jalan Ahmad Yani. Di sana jalanan hanya diisi oleh sejumlah kendaraan, padahal biasanya mengular dari kawasan Hotel Alila hingga RS Panti Waluyo. Tidak hanya di situ, di Jalan Adi Sucipto kawasan Stadion Manahan, Kecamatan Banjarsari juga tampak lengang.

Baik dari arah timur (Flyover Manahan) maupun dari arah barat (Bandara Adi Soemarmo). Begitu juga arus lalu lintas di Jalan Dr Radjiman, Kecamatan Lawetan juga tidak jauh berbeda. "Biasanya ramai, apalagi dekat kawasan kampus, belum lagi saat libur Minggu ya tambah ramai," aku dia.

"Apa mungkin karena Corona ya," celetuknya singkat. Petugas medis yang pernah menangani pasien positif Corona di Solo yang meninggal kini dikarantina. Untuk diketahui, sebelum dirawat di RSUD Dr Moewardi Solo, pasien positif Corona tersebut sempat dirawat di dua RS.

Salah satu rumah sakit yang pernah merawat pasien positif Corona sebelum dirawat di RSUD Dr Moewardi adalah RS Dr Oen Kandang Sapi Solo. Direktur Utama Rs Dr Oen Kandang Sapi Solo, dr William Tanoyo, M.Kes mengatakan pihaknya merawat pasien tersebut selama 12 jam hingga akhirnya dirujuk ke RSUD Dr Moewardi. "Sebagai instansi pelayanan kesehatan, kami tidak bisa memilih merawat pasien dengan kondisi tertentu. Kami wajib melayani seluruh pasien dengan sepenuh hati," papar Wiliam dalam keterangan persnya, Minggu (15/3/2020).

Pascadiketahui pasien tersebut positif Corona, pihaknya telah mengkarantina perawat dan petugas medis yang bersinggungan dengan pasien itu. Karantina itu sesuai dengan perintah Dinas Kesehatan (Dinkes) Solo. Dalam perawatan mereka yang di karantina mandiri ini mendapatkan vitamin dan dilakukan pengecekan suhu tubuh pada pagi dan sore hari.

"Laporan juga kami terima rutin dan selalu update, jadi bila ada gejala segera dilakukan pemeriksaan," papar Wiliam. Selain itu, sebagai upaya pencegahan penyebaran virus corona kepada pelanggan RS Dr. Oen Kandang Sapi Solo sudah diterapkan konsep jalur terpisah antara pasien dan pengujung yang sehat. Untuk menangani virus Corona , Pemerintah Kota Solo menyiapkan anggaran sebesar Rp 2 miliar.

Anggaran tersebut diperuntukkan untuk berbagai keperluan mulai dari tracking, karantina mandiri dan berbagai keperluan lainnya. "Itu sudah kita plot, anggaran itu (Rp 2 miliar, Red) bisa kurang bisa lebih, karena untuk tracking, karantina mandiri dan sebagainya," kata Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo, Sabtu (14/3/2020). Menurut dia, dengan diputuskannya status Kejadian Luar Biasa (KLB) Corona anggaran bisa segera dicairkan.

Sementara, untuk pengadaan disinfektan, juga akan dibiayai dari anggaran tersebut. "Selama ini untuk pembelian cairan desinfektan tidak kami anggarkan," kata Rudy. "Kalau tidak diputuskan kejadian luar biasa, tidak bisa mengeluarkan anggaran tidak terduga," tambahnya.

Pemkot Solo juga siap mengucurkan anggaran mendesak apabila anggaran tidak terduga masih kurang. "Kalau kurang menggunakan anggaran mendesak, kami menggunakan mekanisme mendahului anggaran," kata Rudy. Rudy mengingatkan organisasi perangkat daerah tidak memanfaatkan kasus wabah virus Corona untuk kepentingan pribadi.

"Pesan jangan memanfaatkan kasus virus Corona, teman teman dinas itu dalam menyusun anggaran fokus pada penanganan dan pencegahan virus Corona," tandasnya. Terkait penanganan Corona, Pemerintah Kota Solo memusnahkan 193 kelelawar di Pasar Depok, Kecamatan Banjarsari Solo. Ratusan kelelawar itu dimusnahkan karena ditemukan adanya virus dalam tubuh hewan.

Hal ini berdasarkanhasil penelitian Balai Besar Penelitian Veteriner (BBPV) Bogor. "Kelelawar itu hewan yang unik didalam tubuhnya ditemukan virus virus dimungkinkan mutasi," kata Kepala DPKPP Surakarta, Evi Nur Wulandari, Sabtu (14/3/2020). Virus yang ada dalam tubuh hewan itu bisa bermutasi dengan hewan lain atau dengan manusia yang ada di pasar hewan.

Dasar itulah yang mendasari pemusnahan ratusan kelelawar di Pasar Depok, Solo. "Maka dilakukan langkah pelarangan penjual kelelewar ini," tutur Evi. "Dimusnahkan ini agar virus tidak bermutasi sehingga dapat menyerang ke manusia atau bersifat zoonosis," tambahnya.

Evi menjelaskan virus yang terdapat di dalam kelelewar memiliki kemiripan yang jauh dengan virus Corona asal Wuhan, China. "Ternyata hasil pemeriksaan didapatkan ada Virus Beta Corona yang mana kemiripan dengan virus Wuhan sangat jauh," jelas dia. "Virus belum bisa menginfeksi ke manusia secara langsung," imbuhnya.

Meski telah memusnahkan kelelawar di Pasar Depok, Pemerintah Kota Solo tetap akan membiarkan yang masih hidup di habitat aslinya. Kepala Seksi Konservasi BKSDA Wilayah I Solo Titi Sudaryanti memastikan bahwa pemusnahan hanya dilakukan kepada kelelawar yang ada di Pasar Depok. "Kalau yang hidup di alam dibiarkan saja, mereka punya habitat sendiri," kata Titi.

"Ini pun kita lakukan sesuai prosedur, supaya kelelawar ini tidak diperdagangkan," tandasnya.(*)

Berita Terkait

Ini Kata WHO Hasil Uji Klinis Awal Inggris Sebut Dexamethasone Dapat Obati Pasien Covid-19

Maya Rosfi'ah

Simak Protokol Pencegahan Covid-19 yang Dirilis Menkes Aparat Keamanan Berisiko Tertular

Maya Rosfi'ah

Wamendes PDTT Nilai Kebijakan Larangan Mudik Bantu Cegah Penularan Covid-19 di Desa

Maya Rosfi'ah

NU Sebut Korban Meninggal Akibat Corona Termasuk Mati Syahid

Maya Rosfi'ah

499 Positif & 45 Meninggal 81 Sembuh UPDATE Corona di Jawa Timur 15 April 2020

Maya Rosfi'ah

Hingga Senin RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet Rawat 524 Pasien

Maya Rosfi'ah

Sehari Bisa Antar Puluhan Korban Meninggal Dunia kisah Sopir Mobil Jenazah DKI Jakarta

Maya Rosfi'ah

Mulai dari Cara Cuci Tangan yang betul hingga Pencegahan 25 Poster Virus Corona

Maya Rosfi'ah

Yuri Jangan Terpaku Persentase Kalau Positif 1 Meninggal Berarti Tingkat Kematian 100 Persen Dong

Maya Rosfi'ah

Leave a Comment